Adu Jempol Said Didu dan Prastowo Ulas Utang Tujuh Ribu Triliun

Ilustrasi utang negara pada zaman pemerintahan Jokowi (Gambar: CNBC Indonesia/Edward Ricardo)

MUHAMMAD SAID DIDU, eks Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), menanggapi pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tentang kesanggupan pemerintah membayar utang negara yang per 30 Desember 2022 mencapai Rp7.733,99 triliun.

Said Didu mengingatkan, hampir 50% pendapatan negara digunakan untuk bayar utang,  baik pokok utang maupun bunga utang. Itu sebabnya ia mempertanyakan dari mana muasal kemampuan membayar utang itu?

Ingat, sekarang sudah mendekati 50 persen pendapatan negara digunakan untuk bayar utang (pokok dan bunga). Mohon tunjukkan kemampuan tsb dari mana?

Begitu bunyi cuitan Said Didu di Twitter, Selasa (24/1). Ia meneruskan cuitannya. Dari memeras rakyat lewat pajak dan penghapusan subsidi?

Cuitan itu sontak malang melintang di linikala. Tidak sedikit netizen yang urun komentar, tidak sedikit pula yang sekadar singgah memberi tanda suka. Salah satunya, tanggapan Staf Khusus Menteri Keuangan, Yustinus Prastowo.

Menurut Mas Pras, sapaan akrab Yustinus Prastowo, selama ini reputasi Indonesia dalam membayar utang sangat baik. Selain itu, imbuhnya, utang juga digunakan untuk pembiayaan produktif.

Ia memerinci, penambahan utang hingga Rp1200 triliun adalah gotong royong dengan Bank Indonesia untuk mengatasi pandemi. Ia juga menegaskan bahwa pernyataan Said Didu tentang “memeras rakyat dengan pajak” adalah fitnah.

“Pak Said Didu minta ditunjukkan kemampuan bayar kita,” tukas Pras di Twitter. “Gampang, Pak. Silakan cek dan tunjukkan, apakah kita pernah gagal bayar atau minta penjadwalan? Jika tidak, itu sudah menjadi jawaban yang terang benderang.” (ARM)

Leave a Comment